SPONSOR

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Konsumsi Serat, Pencernaan Sehat

POLA makan dan cara diet yang salah ternyata berisiko meningkatkan serangan penyakit kanker usus. Terlebih pada Anda yang memasuki usia 40 tahun ke atas.

Ahli nutrisi, Andang Gunawan mengatakan, anjuran menu empat sehat lima sempurna sangat baik diterapkan dalam pola makan sehari-hari. Dengan catatan, sayuran menjadi komponen yang "wajib" ada dalam asupan menu harian.


Andang menjelaskan, salah satu kunci untuk hidup sehat adalah pH (derajat keasaman) darah harus agak basa, yaitu pada kisaran angka 7,3. Pada angka tersebut, kondisi kepekatan darah bagus sehingga aliran darah dan metabolisme tubuh berjalan lancar. Untuk mencapai pH ideal, tidaklah sulit.

Caranya, aturlah komposisi menu harian seimbang. Namun, upayakan makanan pembentuk basa seperti sayuran dan buah mendapat porsi lebih banyak dibanding bahan makanan pembentuk asam, misalnya nasi dan daging merah.

"Anda dapat mencoba semua jenis sayuran dan sebaiknya yang masih segar. Ingat, Anda wajib mencuci sayuran sesaat sebelum dimasak atau dikonsumsi. Sebab, kalau dicuci dulu terus dibiarkan lama biasanya cepat layu," saran wanita yang berpraktik di sebuah klinik di Ciputat, Tangerang, ini.

Apa yang disarankan Andang adalah salah satu upaya agar kita memiliki sistem pencernaan yang sehat. Pasalnya, kondisi pencernaan yang buruk dapat menjadi awal pemicu timbulnya kanker usus besar atau yang dalam bahasa medis disebut kanker kolorektal. Seperti kanker umumnya, kanker kolorektal juga "misterius". Artinya, penyebabnya beragam dan mungkin tidak sama antarpasien.

Kemunculan penyakit ini adakalanya dipicu oleh gejala sehari-hari yang dianggap remeh. Misalnya cara diet yang salah sehingga menyebabkan perubahan kebiasaan buang air besar (BAB) dan sembelit.

"Gaya hidup tidak sehat seperti kurang olahraga, merokok, kebiasaan makan gorengan, makanan berpengawet dan berpewarna, paparan bahan karsinogenik (zat pemicu kanker), serta kurangnya asupan antioksidan, dapat meningkatkan risiko kanker berbahaya ini," papar konsultan hematologi-onkologi medis dari RSCM Jakarta, Aru sudoyo.

Kanker kolorektal ditandai dengan tumbuhnya sel kanker ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan KUB diawali dengan pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, polip dapat diangkat dengan mudah.

Sayangnya, pada stadium awal adenoma tidak menampakkan gejala apa pun sehingga sulit terdeteksi dalam waktu yang cepat. Pada kondisi tertentu, keberadaan polip ini berpotensi menjadi kanker yang dapat mengenai semua bagian usus besar.

Bahkan, tidak hanya area usus, sel kanker yang mengganas juga dapat menyebar (metastase) ke organ lainnya seperti kelenjar getah bening dan hati. Kalau sudah menyebar ke "lokasi" lain, jelas hal tersebut sangat membahayakan tubuh Anda.

Untuk mengetahui keberadaan polip atau sel kanker di dalam usus, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan kolonoskopi dan sampel kotoran (feses). Jika ditemukan adanya polip atau sel kanker, pilihan modalitas terapi biasanya disesuaikan dengan stadium, posisi, ukuran, dan penyebaran sel kanker.(sindo//jri)

Konsumsi Serat, Pencernaan Sehat

POLA makan dan cara diet yang salah ternyata berisiko meningkatkan serangan penyakit kanker usus. Terlebih pada Anda yang memasuki usia 40 tahun ke atas.

Ahli nutrisi, Andang Gunawan mengatakan, anjuran menu empat sehat lima sempurna sangat baik diterapkan dalam pola makan sehari-hari. Dengan catatan, sayuran menjadi komponen yang "wajib" ada dalam asupan menu harian.


Andang menjelaskan, salah satu kunci untuk hidup sehat adalah pH (derajat keasaman) darah harus agak basa, yaitu pada kisaran angka 7,3. Pada angka tersebut, kondisi kepekatan darah bagus sehingga aliran darah dan metabolisme tubuh berjalan lancar. Untuk mencapai pH ideal, tidaklah sulit.

Caranya, aturlah komposisi menu harian seimbang. Namun, upayakan makanan pembentuk basa seperti sayuran dan buah mendapat porsi lebih banyak dibanding bahan makanan pembentuk asam, misalnya nasi dan daging merah.

"Anda dapat mencoba semua jenis sayuran dan sebaiknya yang masih segar. Ingat, Anda wajib mencuci sayuran sesaat sebelum dimasak atau dikonsumsi. Sebab, kalau dicuci dulu terus dibiarkan lama biasanya cepat layu," saran wanita yang berpraktik di sebuah klinik di Ciputat, Tangerang, ini.

Apa yang disarankan Andang adalah salah satu upaya agar kita memiliki sistem pencernaan yang sehat. Pasalnya, kondisi pencernaan yang buruk dapat menjadi awal pemicu timbulnya kanker usus besar atau yang dalam bahasa medis disebut kanker kolorektal. Seperti kanker umumnya, kanker kolorektal juga "misterius". Artinya, penyebabnya beragam dan mungkin tidak sama antarpasien.

Kemunculan penyakit ini adakalanya dipicu oleh gejala sehari-hari yang dianggap remeh. Misalnya cara diet yang salah sehingga menyebabkan perubahan kebiasaan buang air besar (BAB) dan sembelit.

"Gaya hidup tidak sehat seperti kurang olahraga, merokok, kebiasaan makan gorengan, makanan berpengawet dan berpewarna, paparan bahan karsinogenik (zat pemicu kanker), serta kurangnya asupan antioksidan, dapat meningkatkan risiko kanker berbahaya ini," papar konsultan hematologi-onkologi medis dari RSCM Jakarta, Aru sudoyo.

Kanker kolorektal ditandai dengan tumbuhnya sel kanker ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan KUB diawali dengan pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, polip dapat diangkat dengan mudah.

Sayangnya, pada stadium awal adenoma tidak menampakkan gejala apa pun sehingga sulit terdeteksi dalam waktu yang cepat. Pada kondisi tertentu, keberadaan polip ini berpotensi menjadi kanker yang dapat mengenai semua bagian usus besar.

Bahkan, tidak hanya area usus, sel kanker yang mengganas juga dapat menyebar (metastase) ke organ lainnya seperti kelenjar getah bening dan hati. Kalau sudah menyebar ke "lokasi" lain, jelas hal tersebut sangat membahayakan tubuh Anda.

Untuk mengetahui keberadaan polip atau sel kanker di dalam usus, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan kolonoskopi dan sampel kotoran (feses). Jika ditemukan adanya polip atau sel kanker, pilihan modalitas terapi biasanya disesuaikan dengan stadium, posisi, ukuran, dan penyebaran sel kanker.(sindo//jri)

Penderita Kusta Bukan untuk Dihindari

BANYAK stigma yang salah mengenai penyakit kusta. Misalnya, penderita kusta harus dihindari karena bisa menular. Sebaiknya, singkirkan pikiran itu karena kusta bukan penyakit untuk dihindari tetapi untuk diobati.

Ali Haji Saidi, 56, mengaku terkena penyakit kusta saat usianya 6 tahun. Ali yang berasal dari Aceh Utara ini merasakan sesuatu yang berbeda pada kulitnya. Namun, dia segera berobat. Alasannya, takut tersebar di lingkungannya. Itu karena kusta dianggap nista atau penyakit aib.

"Saya mencari informasi tentang kista melalui buku saja," papar Ali yang mengakui dirinya sempat dikucilkan.

Hingga akhirnya, Ali menyebutkan, dirinya berobat ke pusat rehabilitasi penderita kusta di Tangerang. "Saat ke Jakarta, ini merupakan awal kehidupan. Karena, saya bisa membentuk keluarga dan menjadi pengusaha kerupuk," paparnya.

Dia juga menambahkan, penderita kusta tetap bisa berkarier sebagai pengusaha makanan. "Penderita kusta memang bisa menjalani profesi apa pun. Mereka terkucilkan karena pandangan negatif masyarakat," sebutnya.

Sementara itu, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Emmy S Sjamsoe, SpKK (K), menuturkan bahwa sampai sekarang masih banyak masyarakat yang belum paham tentang penyakit kusta.

"Sebagian dari mereka menganggap kusta adalah penyakit menular yang ganas sehingga penderita kusta harus dijauhi," tuturnya saat menjadi pembicara seminar kusta di Hotel Horison, Bekasi, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, Emmy mengatakan, penyebab kusta adalah kuman Kusta (Mycrobacterium leprae). Jika dibiarkan akan menyebabkan kecacatan.

Maka itu perlu diwaspadai beberapa gejala jika terserang kusta. Waspadai gejalanya, Emmy menyebutkan, seperti jika ada bercak putih (seperti panu) atau merah pada kulit dan mati rasa.

Selain itu, bagian tersebut tidak berbulu, tidak mengeluarkan keringat, maka segera periksa ke dokter. Karena penanganan dini kusta bisa membuat penderitanya sembuh total dan terhindar dari kecacatan.

"Penyakit kusta dapat disembuhkan tanpa cacat bila diobati sejak gejala, tapi dengan teratur," ujar Emmy.

Penderita Kusta Bukan untuk Dihindari

BANYAK stigma yang salah mengenai penyakit kusta. Misalnya, penderita kusta harus dihindari karena bisa menular. Sebaiknya, singkirkan pikiran itu karena kusta bukan penyakit untuk dihindari tetapi untuk diobati.

Ali Haji Saidi, 56, mengaku terkena penyakit kusta saat usianya 6 tahun. Ali yang berasal dari Aceh Utara ini merasakan sesuatu yang berbeda pada kulitnya. Namun, dia segera berobat. Alasannya, takut tersebar di lingkungannya. Itu karena kusta dianggap nista atau penyakit aib.

"Saya mencari informasi tentang kista melalui buku saja," papar Ali yang mengakui dirinya sempat dikucilkan.

Hingga akhirnya, Ali menyebutkan, dirinya berobat ke pusat rehabilitasi penderita kusta di Tangerang. "Saat ke Jakarta, ini merupakan awal kehidupan. Karena, saya bisa membentuk keluarga dan menjadi pengusaha kerupuk," paparnya.

Dia juga menambahkan, penderita kusta tetap bisa berkarier sebagai pengusaha makanan. "Penderita kusta memang bisa menjalani profesi apa pun. Mereka terkucilkan karena pandangan negatif masyarakat," sebutnya.

Sementara itu, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Emmy S Sjamsoe, SpKK (K), menuturkan bahwa sampai sekarang masih banyak masyarakat yang belum paham tentang penyakit kusta.

"Sebagian dari mereka menganggap kusta adalah penyakit menular yang ganas sehingga penderita kusta harus dijauhi," tuturnya saat menjadi pembicara seminar kusta di Hotel Horison, Bekasi, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, Emmy mengatakan, penyebab kusta adalah kuman Kusta (Mycrobacterium leprae). Jika dibiarkan akan menyebabkan kecacatan.

Maka itu perlu diwaspadai beberapa gejala jika terserang kusta. Waspadai gejalanya, Emmy menyebutkan, seperti jika ada bercak putih (seperti panu) atau merah pada kulit dan mati rasa.

Selain itu, bagian tersebut tidak berbulu, tidak mengeluarkan keringat, maka segera periksa ke dokter. Karena penanganan dini kusta bisa membuat penderitanya sembuh total dan terhindar dari kecacatan.

"Penyakit kusta dapat disembuhkan tanpa cacat bila diobati sejak gejala, tapi dengan teratur," ujar Emmy.

Awas Sindrom Mata Kering

MATA sebagai organ tubuh sangat penting perlu dijaga kesehatannya. Ini karena adanya gangguan kecil pun mata akan terasa tak nyaman.

Tidak heran berbagai cara dilakukan agar tidak mengalami gangguan. Kerusakan mata pun sangat beragam, mulai yang ringan seperti mata merah, gatal, katarak, rabun jauh, rabun dekat hingga tingkat yang parah dan tidak tertolong lagi seperti kebutaan hingga sepanjang usia.


Salah satu kerusakan mata yang sangat banyak terjadi pada masyarakat perkotaan adalah sindrom mata kering. Sindrom mata kering terjadi karena ditemukannya lapisan air mata (tear film) yang tidak normal pada mata. Pada mata normal tear film akan membasahi permukaan bola mata sepanjang waktu dalam kadar yang normal (tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering). Sementara bola mata terdiri atas tiga lapisan. Di antaranya adalah lapisan lemak atau minyak, lapisan akuos atau air dan yang terakhir adalah lapisan musinatau lendir.

Setiap lapisan memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Misalnya lapisan minyak berfungsi untuk mencegah penguapan air mata yang berlebihan jika mata sedang aktif setiap harinya. Lapisan minyak ini juga berfungsi sebagai pelicin bola mata. Lapisan akuos atau air memiliki fungsi yang berbeda pula, yaitu untuk membersihkan atau membuang benda-benda asing yang masuk ke dalam mata tanpa sengaja. Misalnya debu atau bulu mata yang tidak sengaja jatuh dan masuk ke dalam mata, akan dikeluarkan lapisan bola mata akuos ini. Lapisan ketiga, sesuai dengan namanya yaitu musin atau lendir berfungsi untuk menjaga agar air mata bisa menempel pada bola mata dalam jangka waktu tertentu.

Lalu apa yang menyebabkan sindrom mata kering? Jika salah satu dari tiga lapisan bola mata mengalami gangguan, maka akan terjadilah kelainan mata yang disebut dengan sindrom mata kering. Sindrom mata kering ternyata dapat diderita oleh semua usia, baik pria maupun wanita. Gangguan mata dalam kasus sindrom mata kering, bisa terjadi akibat keadaan atau penyakit, misalnya kelainan kongenital, rematik, leukemia, hormonal (menopause), diabetes mellitus, trauma kelenjar air mata, defisiensi vitamin A, dan C, trauma bahan kimia atau panas. "Sindrom mata kering akan menyebabkan produksi air mata berkurang. Dalam kasus sindrom mata kering, akan semakin parah seiring bertambahnya usia," kata Spesialis Mata Dr Muhammad Hafiz, SpM.

Ditambahkan Hafiz yang juga berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini, untuk mengenali gejala awal terjadinya serangan mata kering, bisa dilihat dari keluhan pasien ketika datang berobat ke rumah sakit. Keluhan itu, biasanya pasien merasakan sesuatu mengganjal di dalam mata, atau di dalam mata seperti ada benda asing. "Keluhan seperti itulah yang paling banyak terjadi jika seseorang mengalami sindrom mata kering," kata dia.

Gejala lain yang kemudian bisa diketahui adalah pasien akan merasakan matanya seperti berpasir, terkadang mata terasa terbakar, silau jika terkena cahaya walaupun sebenarnya cahaya yang masuk tidak terlalu terang. "Namun, agar lebih efektif biasanya kita menggunakan schirmer tes untuk mengetahui produksi air mata. Atau bisa pula dengan menggunakan tearscope untuk mengetahui kualitas air mata," sebut dokter berperawakan tambun tersebut.

Sindrom mata kering, menurut Hafiz, sangat banyak menyerang masyarakat perkotaan. Namun, sering kali diabaikan. Padahal jika dibiarkan berlarut-larut bisa mengganggu penglihatan dan kornea mata bisa mengalami infeksi karena kekurangan cairan.

"Penyebabnya sangat beragam, misalnya udara yang kering, angin, debu, dan asap rokok. Alternatif pengobatannya adalah dengan memberikan pasien air mata buatan," sebutnya.

Selain memberikan air mata buatan, untuk mencegah terjadinya sindrom mata kering, disarankan kepada pasien untuk menggunakan kaca mata pelindung. "Kaca mata pelindung akan sedikit berbeda dengan kaca mata biasa. Intinya, melindungi mata dari panas berlebih atau debu," tuturnya lagi.

Untuk mencegah terjadinya sindrom mata kering, pasien atau mereka yang belum terkena, bisa menghindari debu atau udara yang kering.

"Polusi dari asap kendaraan juga bisa membuat terjadinya sindrom mata kering tersebut. Jadi usahakan ke mana-mana kalau keluar rumah memakai kacamata pelindung. Kalau tidak ada, kacamata hitam juga boleh," sebutnya.

Awas Sindrom Mata Kering

MATA sebagai organ tubuh sangat penting perlu dijaga kesehatannya. Ini karena adanya gangguan kecil pun mata akan terasa tak nyaman.

Tidak heran berbagai cara dilakukan agar tidak mengalami gangguan. Kerusakan mata pun sangat beragam, mulai yang ringan seperti mata merah, gatal, katarak, rabun jauh, rabun dekat hingga tingkat yang parah dan tidak tertolong lagi seperti kebutaan hingga sepanjang usia.


Salah satu kerusakan mata yang sangat banyak terjadi pada masyarakat perkotaan adalah sindrom mata kering. Sindrom mata kering terjadi karena ditemukannya lapisan air mata (tear film) yang tidak normal pada mata. Pada mata normal tear film akan membasahi permukaan bola mata sepanjang waktu dalam kadar yang normal (tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering). Sementara bola mata terdiri atas tiga lapisan. Di antaranya adalah lapisan lemak atau minyak, lapisan akuos atau air dan yang terakhir adalah lapisan musinatau lendir.

Setiap lapisan memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Misalnya lapisan minyak berfungsi untuk mencegah penguapan air mata yang berlebihan jika mata sedang aktif setiap harinya. Lapisan minyak ini juga berfungsi sebagai pelicin bola mata. Lapisan akuos atau air memiliki fungsi yang berbeda pula, yaitu untuk membersihkan atau membuang benda-benda asing yang masuk ke dalam mata tanpa sengaja. Misalnya debu atau bulu mata yang tidak sengaja jatuh dan masuk ke dalam mata, akan dikeluarkan lapisan bola mata akuos ini. Lapisan ketiga, sesuai dengan namanya yaitu musin atau lendir berfungsi untuk menjaga agar air mata bisa menempel pada bola mata dalam jangka waktu tertentu.

Lalu apa yang menyebabkan sindrom mata kering? Jika salah satu dari tiga lapisan bola mata mengalami gangguan, maka akan terjadilah kelainan mata yang disebut dengan sindrom mata kering. Sindrom mata kering ternyata dapat diderita oleh semua usia, baik pria maupun wanita. Gangguan mata dalam kasus sindrom mata kering, bisa terjadi akibat keadaan atau penyakit, misalnya kelainan kongenital, rematik, leukemia, hormonal (menopause), diabetes mellitus, trauma kelenjar air mata, defisiensi vitamin A, dan C, trauma bahan kimia atau panas. "Sindrom mata kering akan menyebabkan produksi air mata berkurang. Dalam kasus sindrom mata kering, akan semakin parah seiring bertambahnya usia," kata Spesialis Mata Dr Muhammad Hafiz, SpM.

Ditambahkan Hafiz yang juga berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini, untuk mengenali gejala awal terjadinya serangan mata kering, bisa dilihat dari keluhan pasien ketika datang berobat ke rumah sakit. Keluhan itu, biasanya pasien merasakan sesuatu mengganjal di dalam mata, atau di dalam mata seperti ada benda asing. "Keluhan seperti itulah yang paling banyak terjadi jika seseorang mengalami sindrom mata kering," kata dia.

Gejala lain yang kemudian bisa diketahui adalah pasien akan merasakan matanya seperti berpasir, terkadang mata terasa terbakar, silau jika terkena cahaya walaupun sebenarnya cahaya yang masuk tidak terlalu terang. "Namun, agar lebih efektif biasanya kita menggunakan schirmer tes untuk mengetahui produksi air mata. Atau bisa pula dengan menggunakan tearscope untuk mengetahui kualitas air mata," sebut dokter berperawakan tambun tersebut.

Sindrom mata kering, menurut Hafiz, sangat banyak menyerang masyarakat perkotaan. Namun, sering kali diabaikan. Padahal jika dibiarkan berlarut-larut bisa mengganggu penglihatan dan kornea mata bisa mengalami infeksi karena kekurangan cairan.

"Penyebabnya sangat beragam, misalnya udara yang kering, angin, debu, dan asap rokok. Alternatif pengobatannya adalah dengan memberikan pasien air mata buatan," sebutnya.

Selain memberikan air mata buatan, untuk mencegah terjadinya sindrom mata kering, disarankan kepada pasien untuk menggunakan kaca mata pelindung. "Kaca mata pelindung akan sedikit berbeda dengan kaca mata biasa. Intinya, melindungi mata dari panas berlebih atau debu," tuturnya lagi.

Untuk mencegah terjadinya sindrom mata kering, pasien atau mereka yang belum terkena, bisa menghindari debu atau udara yang kering.

"Polusi dari asap kendaraan juga bisa membuat terjadinya sindrom mata kering tersebut. Jadi usahakan ke mana-mana kalau keluar rumah memakai kacamata pelindung. Kalau tidak ada, kacamata hitam juga boleh," sebutnya.